Sekapur Sirih Edisi IX Tahun 2003

Asalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Isu tentang perlindungan Hak Milik Intelektual pada dasawarsa terakhir ini terus dibicarakan di berbagai negara. Maraknya isu tersebut tidak terlepas dari banyaknya pelanggaran-pelanggaran seputar hak milik intelektual ini. Pembajakan lukisan, film, buku, kaset, CD, VCD, LD, dan produk-produk teknologi lainnya terjadi secara transparan dan tidak malu-malu. Hal ini terjadi bukan karena sebuah kealpaan atau ketidaktahuan pelaku pembajakan tentang undang-undang perlindungan Hak Milik Intelektual, namun lebih banyak karena nafsu memperoleh keuntungan besar dengan mudah.

Awalnya, perundang-undangan tentang perlindungan Hak Milik Intelektual berkembang pesat di negara-negara yang menganut ideologi kapitalis. Gilirannya, muncul kesepakatan yang dikenal dengan kesepakatan Paris sebagai perlindungan hak milik intelektual pada tahun 1883 dan kesepakatan Bern pada tahun 1886. Kedua kesepakatan tersebut kemudian disusul dengan tidak kurang dari 20 kesepakatan lainnya. Untuk mengawasi dan melindungi kesepakatan-kesepakatan tersebut telah dibentuk organisasi hak milik Intelektual se-Dunia (WIPO).

Pada tahun 1995, Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) mengadopsi ide perlindungan hak milik intelektual dan akhirnya WIPO menjadi bagian dari WTO. Kemudian WTO memberikan ketentuan terhadap bangsa-bangsa untuk bergabung di dalamnya; bahwasanya mereka harus mematuhi perlindungan hak milik intelektual dan menetapkan undang-undang yang mengikat terhadap warga negaranya, untuk melindungi hak milik intelektual di negara masing-masing.

Para ahli hukum Islam kontemporer silang pendapat mengenai hukum perlindungan terhadap hak milik intelektual ini. Sebagian mereka tidak menerimanya dengan alasan bahwa obyek kepemilikan dalam syari’ah hanya pada sesuatu atau benda yang nyata. Sementara itu sebagian mereka mengakui hak milik intelektual berdasarkan prinsip mashlahah mursalah yang berkaitan dengan al-huquq al-khash-shah. Menurut mereka tidak ada ketentuan yang tegas dalam kitab suci maupun sunnah yang membatasi kepemilikan hanya pada obyek-obyek yang nyata.

Melihat pentingnya hak milik intelektual tersebut dikaji dari sudut pandang hukum Islam, maka Al-Mawarid edisi IX mengangkat tema ini dan membahasnya dari berbagai aspek dalam perspektif hukum Islam. Redaksi berusaha menghadirkan pembahasan tentang Hak Milik Intelektual secara lengkap mulai dari sejarah munculnya HAKI, baik di Barat ataupun di dunia Islam, sampai pada HAKI dalam perspektif fiqh. Selamat membaca!

Untuk edisi X yang akan datang Jurnal Al-Mawarid akan membahas tema: Lembaga Keuangan Islam, untuk itu mohoh kepada para pembaca untuk berpartisipasi menyumbangkan tulisannya untuk edisi yang akan datang.

Wasalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Penyunting

Full Text

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s